Selasa, 16 Mei 2017
Rabu, 10 Mei 2017
Jumat, 21 April 2017
Rangkaian Kombinasional dan Rangkaian Sekuensial
Nama : Muhammad Ridwan Firdaus
NPM : 15416061
Kelas : 1IB01
1. Jelaskan definisi rangkaian
kombinasional dan berikan 3 contoh piranti yang menggunakan rangkaian ini.
Jawab :
Rangkaian kombinasional terdiri dari gerbang logika yang memiliki output yang
selalu tergantung pada kombinasi input yang ada. Rangkaian kombinasional
melakukan operasi yang dapat ditentukan secara logika dengan memakai sebuah
fungsi boolean.
1.
Enkoder
Enkoder
adalah rangkaian logika kombinasional yang berfungsi untuk mengubah atau
mengkodekan suatu sinyal masukan diskrit menjadi keluaran kode biner.
2.
Dekoder
Rangkaian
Dekoder mempunyai sifat yang berkebalikan dengan Enkoder yaitu merubah kode
biner menjadi sinyal diskrit. Sebuah dekoder harus memenuhi syarat perancangan
m < 2 n . Variabel m adalah kombinasi keluaran dan n adalah jumlah bit
masukan. Satu kombinasi masukan hanya dapat mewakili satu kombinasi keluaran.
3.
Multiplexer
Rangkaian
logika kombinasional Multiplexer atau disingkat MUX adalah alat atau komponen
elektronika yang bisa memilih input (masukan) yang akan diteruskan ke bagian
output (keluaran). Pemilihan input mana yang dipilih akan ditentukan oleh
signal yang ada di bagian kontrol (kendali) Select.
2. Jelaskan definisi rangkaian sequensial dan berikan
3 contoh piranti yang menggunakan rangkaian ini.
Jawab :
Rangkaian
sekuensial merupakan rangkaian logika yang keadaan
outputnya tergantung pada keadaan input-inputnya juga tergantung pada keadaan
output sebelumnya. Rangkaian ini juga didefenisikan sebagai rangkaian logika
yang outputnya tergantung waktu.
1.
Flip-flop
Flip-flop
adalah rangkaian utama dalam logika sequensial. Counter, Register,Memory, serta
rangkaian sequensial lainnya disusun dengan menggunakan flipflop sebagai
komponen utama. Flipflop adalah rangkaian yang mempunyai fungsi pengingat
(memory). Artinya rangkaian ini mampu melakukan penyimpanan data sesuai dengan
kombinasi masukan yang diberikan kepadanya. Ada beberapa macam flipflop yang
akan dibahas yaitu RS flipflop, JK flipflop, D flipflop, dan T flipflop. Ciri
utama dari flipflop adalah keluaran Q dan Q’ adalah selalu berlawanan / stabil
(jika Q = 0 maka Q’ = 1, Jika Q = 1 maka Q’ =0). Karena kondisi dua keadaan
stabil ini rangkaian flipflop dinamakan juga dengan rangkaian bistabil.
2.
counter
Rangkaian
Counter (penghitung) adalah logika sekuensial yang dapat dipergunakan untuk
menghitung jumlah pulsa masuk dan dinyatakan dengan bilangan biner. Sesuai
dengan namanya 4 BIT Binary Counter adalah suatu rangkaian logika yang terdiri
dari 4 buah Flip-Flop yang mampu melaksanakan perhitungan sampai bilangan 16.
3.
Register
Register
adalah memori berukuran sangat kecil dengan kecepatan akses sangat tinggi.
Register digunakan untuk menyimpan data dan instruksi yang sedang diproses,
sementara itu data dan instruksi lainnya yang menunggu giliran diproses akan
disimpan dalam main memory
Jumat, 06 Januari 2017
Kepadatan Penduduk
TUGAS : ISD
NAMA KELOMPOK : Muhammad Ridwan Firdaus
Andes Cristian T
Patrick Novan Allo
KELAS : 1IB01
JURUSAN : Teknik Elektro
"Kepadatan Penduduk"
Kepadatan penduduk adalah salah satu fenomena yang paling sering kita temui di kota-kota besar di indonesia ini. Faktor utama kepadatan penduduk ini, disebabkan oleh tingginya arus urbanisasi, meningkatnya jumlah penduduk dan kurangnya perhatian pemerintah setempat untuk menyediakan lahan tempat tinggal yang layak huni.
Masyarakat yang tinggal di sekitar Rel Kereta Api dan Sungai Kali Ciliwung tepatnya di daerah jakarta pusat, sebenarnya sangat tidak layak huni dan sangat membahayakan. Pemerintah setempat seharusnya mengambil langkah cepat agar dapat mengatasi kepadatan penduduk di pusat wilayah ibukota ini.
Dengan cara merelokasi tempat tinggal warga yang berada di pesisir Sungai dan Rel Kereta Api ke tempat yang layak huni atau dengan menyediakan rumah susun yang terjangkau oleh hasil pendapatan warga tersebut.
versi video : https://youtu.be/Y_cwkkyZOhE
Selasa, 27 Desember 2016
Prasangka, Diskriminasi dan Etnosentrisme
1.
PERBEDAAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
Sikap negatif terhadap
sesuatu disebut dengan prasangka. Jika kita artikan dengan kata lain, prasangka
dapat juga dalam pengertian positif. Sikap
prasangka lebih cenderung ke arah negatif karena pengaruh dari faktor
lingkungan, sikap dan ego yang tinggi, serta mudah terprovokasi dengan orang
lain tanpa ada bukti yang jelas, dan hanya bisa berprasangka dengan orang lain.
Banyak sekali orang-orang yang mudah
berprasangka, namun banyak juga orang-orang yang sangat sulit untuk
berprasangka. Mengapa terjadi perbedaan cukup menyolok? Tampaknya kepribadian
dan intelekgensia, juga faktor lingkungan cukup berkaitan dengan munculnya
prasangka. Seseorang
yang mempunyai prasangka rasial, biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras
yang diprasangkainya, akan tetapi seseorang bertindak diskriminatif tanpa
berlatar belakang pada suatu prasangka.
Akan menjadi lebih
riskan lagi apabila peristiwa itu menjalar lebih luas, sehingga melibatkan
orang-orang di suatu wilayah tertentu, yang diikuti dengan tidakan-tindakan kekerasan
dan destruktif dengan berakibat mendatangkan kerugian yang tidak kecil. Contoh-contoh
lain: Prasangka diskriminasi ras yang berkembang di kawasan Afrika Selatan dan
sekitarnya membuat kawasan ini selalu bergolak. Konflik-konflik antarsuku, antar
ras tak dapat dihindarkan. Lebih jauh antara kelompok minoritas kulit putih
dengan kekuasaan dan kekuatan bersenjata yang lebih tangguh, saling baku hantam
dengan kelompok mayoritas orang-orang kulit hitam. Tindak kekerasan di Afrika
Selatan jelas-jelas merupakan manifestasi dari pertentangan sosial yang
berlarur-larut.
1.1.
SEBAB-SEBAB TlMBULNYA PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
a. Berlatar belakang sejarah.
Orang-orang kulit putih di Amerika Serikat berprasangka negatif
terhadap orang-orang Negro, berlatar belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang-orang
kulit putih sebagai tuan atau raja dan orang-orang Negro berstatus sebagai
budak. Padahal, reputasi dan prestasi orang-orang Negro dewasa ini cukup dapat
dibanggakan, terutama dalam bidang olahraga. akan tetapi prasangka terhadap
orang-orang Negro sebagai biang keladi kerusuhan dan keonaran belum sirna
sampai dengan generasi-generasi sekarang ini.
b. Dilatarbelakangi oleh
perkembangan sosio - kultural dan situasional.
Suatu prasangka muncul
dan berkembang dari suatu individu terhadap individu lain, atau terhadap
kelompok sosial tertentu manakala terjadi penurunan status atau terjadi
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh pimpinan Perusahaan terhadap karyawannya. Pada
sisi lain prasangka bisa berkembang lebih jauh, sebagai akibat adanya jurang
pemisah antara kelompok orang-orang kaya dengan golongan orang-orang miskin. Harta
kekayaan orang-orang kaya baru, diprasangkai bahwa harta-harta itu didapat dari
usaha-usaha yang tidak halal. Antara lain dari usaha korupsi dan penyalahgunaan
wewenang sebagai pejabat dan lain sebagainya.
1.2.
DAYA UPAYA UNTUK MENGURANGI DAN MENGHILANGKAN
PRASANGKA DAN
DISKRIMINASI
a.
Perbaikan kondisi sosial ekonomi.
Pemerataan pembangunan
dan usaha peningkatan pendapatan bagi warga negara Indonesia yang masih
tergolong di bawah garis kemiskinan akan mengurangi adanya
kesenjangan-kesenjangan social anatar si kaya dan si miskin. Melalui
pelaksanaan program-program pembangunan yang mantap yang didukung oleh
lembaga-Iembaga ekonomi pedesaan seperti BUUD dan KUD. Juga melalui program Kredit
Candak Kulak(KCK), Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP) dan dalam sektor
pertanian dengan program Intensifikasi Khusus(Insus), Proyek Perkeb.unan Inti
Rakyat(PIR), juga Proyek Tebu Rakyat diperkirakan golongan ekonomi lemah lambat
laun akan dapat menikmati usaha-usaha pemerintah dalam perbaikan sector perekonomian.
b.
Perluasan kesempatan belajar.
Adanya usaha-usaha
pemerintah dalam perluasan kesempatan belajar bagi seluruh warganegara
Indonesia, paling tidak dapat mengurangi prasangka bahwa program pendidikan,
terutama pendidikan tinggi hanya dapat dinikmati oleh kalangan masyarakat
menengah dan kalangan atas. Mengapa? Untuk mencapai jenjang pendidikan tertentu
di perguruan tinggi memang mahaL disamping itu harus memiliki kemampuan otak
dan modal. Mereka akan selalu tercecar dan tersisih dalam persaingan
memperebutkan bangku sekolah. Masih beruntung bagi mereka yang memi liki
kemampuan otak. Jika dapat mencapai prestasi tinggi dan dapat dipertahankan
secara konsisten, beasiswa yang aneka ragam itu dapat diraih dan kantong pun
tidak akan kering kerontang. Dengan memberi kesempatan luas untuk mencapai
tingkat pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi bagi seluruh
warga Negara Indonesia tanpa kecuali, prasangka dan perasaan tidak adil pada sector
pendidikan cepat atau lambat akan hilang lenyap.
c.
Sikap terbuka dan sikap lapang.
Harus selalu kita sadari
bahwa berbagai tantangan yang datang dari luar ataupun yang datang dari dalam
negeri, semuanya akan dapat merongrong keutuhan negara dan bangsa. Kebhinekaan
masyarakat berikut sejumlah nilai yang melekat, merupakan basis empuk bagi timbulnya
prasangka, diskriminasi, dan keresahan.
d.
Perbedaan keyakinan, kepercayaan
dan agama
Prasangka diatas dapat dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal. Contoh dari
Prasangka diatas dapat dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal. Contoh dari
kejadian
ini misalnya konflik Irlandia Utara – Irlandia Selandia, perang Vietnam, perang
Iran dan Irak, perang Palestina dengan Israel. dan lain-lain.
2.
ETNOSENTRISME
Setiap suku bangsa atau
ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan yang sekaligus menjadi
kebanggaan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam kehidupan sehari-hari
bertingkah laku sejalan dengan norma-norma, nilai-nilai yang terkandung dan
tersirat dalam kebudayaan tersebut. Suku bangsa, ras tersebut cenderung
menganggap kebudayaan mereka sebagai salah sesuatu yang prima, ~iil, logis,
sesuai dengan kodrat alam dan sebagainya. Segala yang berbeda dengan kebudayaan
yang mereka miliki, dipandang sebagai sesuatu yang kurang baik, kurang estetis,
bertentangan dengan kodrat alam dan sebagainya. Hal-hal di atas dapat dikenal
sebagai ETNOSENTRISME, yaitu suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan
norma-norma kebudayaannya sendiri sebagai suatu yang prima, terbaik, mutlak,
dan dipergunakannya sebagai tolak ukur untuk menilai dan membedakannya dengan
kebudayaan lain.
Sumber:
Agama dan Masyarakat
A. Sifat
dan Fungsi Agama Dalam Masyarakat
Agama adalah
fenomena hidup manusia. Dorongan untuk bergama, penghayatan terhadap wujud
agama serta bentuk pelaksanaanya dalam masyarakat bias berbeda-beda, namun pada
hakekatnya sama, yaitu, bahwa semua agama merupakan jawaban terhadap kerinduan
manusia yang paling dalam yang mengatasi semua manusia. Pada hakekatnya seluruh
manusia ini secara fithriah mempunyai potensi untuk percaya kepada Yang Maha
Esa dank arena agama yang mengajarkan tentang konsepsi ketuhanan merupakan
bagain yang tak terpisahkan dan kehidupan umat manusia.
Agama merupakan faktor yang sangat
penting dan sangat menentukan bagi kehidupan jutaan manusia. Agama seringkali
menjadi motif dalam keputusan-keputusan politik, sosial ekonomi, serta
pernyataan-pernyataan kebudayaan. Agama dapat mempersatukan dari berbagai suku
dan bangsa di dunia ini. Agama dapat menjadi tali pengikat persaudaraan yang
kekal, yang melampaui batas-batas wilayah atau georafi. Orang-orang beragama
lebih dekat satu sama lain karena mereka mengenal seperangkat nilai-nilai dasar
sebagai pedoman bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Agama mempunyai 2
dimensi yaitu transcendental (ukhrowi) menyangkut hubungan manusia dengan
Tuhannya dan mondial (duniawi) menyangkut hubungan manusia dengan manusia lain
dan lingkungan.
B. Tipe Hubungan
Agama Dengan Masyarakat
Hubungan agama dengan masyarakat
dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secara
utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954), yaitu:
1. Masyarakat yang terbelakang dan nilai- nilai sakral
Masyarakat
tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakat menganut agama
yang sama. Oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat, dalam kelompok
keagamaan adalah sama.
2. Masyarakat- masyarakat pra- industri yang sedang
berkembang
Keadaan masyarakat tidak terisolasi, ada
perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama
memberikan arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tipe masyarakat ini. Dan
fase kehidupan sosial diisi dengan upacara- upacara tertentu.
3. Masyarakat- masyarakat industri sekular
Masyarakat
industri bercirikan dinamika dan teknologi semakin berpengaruh terhadap semua
aspek kehidupan, sebagian besar penyesuaian- penyesuaian terhadap alam fisik,
tetapi yang penting adalah penyesuaian- penyesuaian dalam hubungan kemanusiaan
sendiri. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai konsekuensi
penting bagi agama, Salah satu akibatnya adalah anggota masyarakat semakin
terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam
menanggapi masalah kemanusiaan, sehingga lingkungan yang bersifat sekular
semakin meluas. Watak masyarakat sekular menurut Roland Robertson (1984), tidak
terlalu memberikan tanggapan langsung terhadap agama. Misalnya pemikiran agama,
praktek agama, dan kebiasaan- kebiasaan agama peranannya sedikit.
C. Pelembagaan
Agama
Agama begitu universal, permanen
(langgeng) dan mengatur dalam kehidupan, sehingga bila tidak memahami agama,
akan sukar memahami masyarakat. Agama melalui wahyunya atau kitab sucinya
memberikan petunjuk kepada manusia guna memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu
selamat dunia dan di akhirat, di dalam perjuangannya tentu tidak boleh lalai.
Untuk kepentingan tersebut perlu jaminan yang memberikan rasa aman bagi
pemeluknya. Maka agama masuk dalam sistem kelembagaan dan menjadi sesuatu yang
rutin. Agama menjadi salah satu aspek kehidupan semua kelompok sosial,
merupakan fenomena yang menyebar mulai dari bentuk perkumpulan manusia,
keluarga, kelompok kerja, yang dalam beberapa hal penting bersifat keagamaan.
Dan terbentuklah organisasi keagamaan untuk mengelola masalah keagamaan. Yang
semula terbentuk dari pengalaman agama tokoh kharismatik pendiri organisasi,
kemudian menjadi organisasi kegamaan yang terlembaga. Lembaga keagamaan
berkembang sebagai pola ibadah, ide- ide, ketentuan (keyakinan), dan tampil
sebagai bentuk asosiasi atau organisasi. Tampilnya organisasi agama akibat
adanya kedalaman beragama, dan mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal
alokasi fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan dan sebagainya.
D. Agama
Sebagai Faktor Konflik Di Masyarakat
Agama dalam satu sisi dipandang oleh
pemeluknya sebagai sumber moral dan nilai, sementara di sisi lain dianggap
sebagai sumber konflik. Menurut Afif Muhammad : Agama acap kali menampakkan diri
sebagai sesuatu yang berwajah ganda”. Sebagaimana yang disinyalir oleh John
Effendi yang menyatakan bahwa Agama pada sesuatu waktu memproklamirkan
perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan dan persaudaraan. Namun pada
waktu yang lain menempatkan dirinya sebagai sesuatu yang dianggap garang-garang
menyebar konflik, bahkan tak jarang, seperti di catat dalam sejarah,
menimbulkan peperangan.
Sebagaiman pandangan Afif Muhammad, Betty R. Scharf
juga mengatakan bahwa agama juga mempunyai dua wajah. Pertama, merupakan
keenggaran untuk menyerah kepada kematian, menyerah dan menghadapi frustasi.
Kedua, menumbuhkan rasa permusuhan terhadap
penghancuranb ikatan-ikatan kemanusiaan. Fakta yang terjadi dalam masyarakat
bahwa “Masyarakat” menjadi lahan tumbuh suburnya konflik. Bibitnya pun bias
bermacam-macam. Bahkan, agama bias saja menjadi salah satu factor pemicu
konflik yang ada di Masyarakat itu sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
Mesin Computer Numerical Control
Mesin Computer Numerical Control A. Pengertian. Computer Numerical Control , disingkat CNC , (berarti ...
-
PENGARUH ASPEK KETAHANAN NASIONAL TERHADAP KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA Tiap-tiap aspek, terutama aspek-aspek dinamis di dalam tata ...
-
PENYUSUNAN POLITIK & STRATEGI NASIONAL Penyusunan Politik Dan Strategi Nasional Politik dan strategi nasional yang telah berlangsung ...
-
Mesin Computer Numerical Control A. Pengertian. Computer Numerical Control , disingkat CNC , (berarti ...